Foto bersama Anggota DPRD Kota Depok, H. Bambang Sutopo bersama para Nara sumber dalam forum Aktual Berbangsa dan BernegaraDepok – HBS menegaskan bahwa pesan Bung Karno tentang Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) masih sangat relevan hingga kini. Sejarah, menurutnya, adalah fondasi yang mengikat perjalanan bangsa dari masa lalu, kini, hingga masa depan.
Namun, ia mengingatkan ada satu sisi yang kerap terabaikan dalam narasi kebangsaan, yaitu peran besar ulama, kiai, dan tokoh Islam dalam memperjuangkan serta menjaga berdirinya Republik Indonesia.
“Selain Jas Merah, kita juga perlu mengingat Jas Hijau – jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” tegasnya.
HBS mencontohkan bagaimana Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipimpin KH. Hasyim Asy’ari menjadi penggerak semangat rakyat dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Ulama, lanjutnya, tidak hanya berperan dalam perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui fatwa jihad, doa, pendidikan, serta pengabdian di tengah masyarakat.
“Ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad hingga Masyumi, pernah menjadi motor penting yang menggerakkan politik, pendidikan, dan sosial bangsa,” ujarnya.
Merah dan Hijau, Identitas Bangsa
Lebih lanjut, HBS menyampaikan bahwa kebangsaan Indonesia lahir dari perpaduan nasionalisme dan religiusitas. Merah dan Hijau harus dirajut bersama. Tanpa merah, bangsa ini kehilangan identitas kebangsaannya, dan tanpa hijau, bangsa ini akan kehilangan ruh serta akhlaknya.
“Bangsa ini berdiri bukan hanya karena senjata, tapi juga karena doa. Indonesia bertahan bukan hanya karena ideologi, tapi juga karena moralitas. Dan masa depan kita akan cerah bila sejarah dan agama terus dijaga bersama,” tutup HBS.













