Setiap kali hujan deras datang, banjir muncul di mana-mana. Setiap longsor terjadi, kita menyebutnya bencana alam. Padahal, ini bukan salah alam, ini konsekuensi dari cara kita memperlakukan bumi. Kita menebang pohon, menutup tanah dengan beton, dan membuang sampah tanpa dipilah dan diolah, lalu heran ketika bencana datang.
Tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi. Namun dibalik peringatannya, ada realitas yang semakin nyata: tanah semakin tertutup beton, air kehilangan ruang resapannya, udara kehilangan penjaganya, dan sampah kian menumpuk setinggi gunung.
Sebagai Ketua Bidang Energi, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim DPD PKS Kota Depok, saya melihat bahwa krisis lingkungan hari ini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi—dan semakin kompleks karena saling berkaitan satu sama lain.
Tanah: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Lahan Beton
Semua persoalan ini bermula dari satu hal yang sering kita anggap biasa: perubahan fungsi lahan.
Lahan sawah yang dahulu menjadi penopang ketahanan pangan kini beralih menjadi kawasan perumahan dan industri. Data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan puluhan ribu hektare lahan sawah setiap tahun. Bahkan pemberitaan Kompas menyebutkan potensi kehilangan mencapai sekitar 90.000 hektare per tahun.
Guru Besar IPB, Suryo Wiyono, menegaskan bahwa penyusutan ini tidak hanya soal lahan, tetapi juga menyangkut kualitas tanah dan masa depan pangan. Tanah yang seharusnya menjadi sumber kehidupan perlahan kehilangan fungsinya sebagai penyerap air dan penopang ekosistem.
Dan ketika tanah kehilangan fungsinya, dampaknya tidak berhenti di sana. Ia mengalir ke persoalan berikutnya: air.
Air: Ketika Hujan Tidak Lagi Terserap
Dampaknya terasa jelas, dan paling cepat kita rasakan, setiap kali hujan turun.
Kita menyebut banjir sebagai “bencana alam”, seolah-olah alam yang bersalah. Padahal, air hanya mengikuti hukum alam—mengalir ke tempat yang tidak lagi mampu menyerapnya.
Pohon ditebang, hutan dibuka, dan tanah ditutup beton. Menurut Food and Agriculture Organization, vegetasi berperan penting dalam proses infiltrasi air ke dalam tanah. Ketika vegetasi hilang, air hujan tidak lagi terserap, melainkan langsung menjadi limpasan permukaan.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa lebih dari 90% bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Ini bukan kebetulan—ini pola.
Secara ilmiah, pohon bekerja seperti “spons alami” yang menyerap dan menahan air. Ketika pohon hilang, air kehilangan tempat untuk masuk, cadangan air berkurang, dan tanah menjadi rapuh.
Lalu ketika air tidak lagi terserap dengan baik, dampaknya tidak hanya banjir—tetapi juga kualitas udara yang ikut memburuk.
Udara: Ketika Paru-Paru Bumi Dihilangkan
Kita sering berbicara tentang udara bersih, tetapi jarang menyadari bahwa kita sendiri yang menghilangkan sumbernya.
Pohon bukan hanya penyerap air, tetapi juga penyaring udara. Ketika jumlahnya berkurang, kemampuan alam untuk menjaga kualitas udara ikut menurun.
Menurut World Health Organization, polusi udara menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan global. Di kota-kota besar, kita mulai merasakan dampaknya: udara lebih panas, lebih kotor, dan semakin tidak sehat.
Ironisnya, kita menebang pohon—lalu membeli alat pembersih udara. Kita menghilangkan solusi alami, lalu mencari solusi buatan.
Namun persoalan belum selesai. Ada satu ancaman lain yang sering kita abaikan, tetapi dampaknya jauh lebih besar: sampah.
Sampah: Ancaman Diam-Diam yang Memanaskan Bumi
Kita sering mengira masalah selesai saat sampah dibuang. Padahal, justru di situlah masalah dimulai.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menunjukkan bahwa timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton per tahun, dan sebagian besar berakhir di Tempat Pembuangan Akhir.
Di sana, sampah membusuk tanpa oksigen dan menghasilkan gas metana—gas rumah kaca yang sangat kuat. Menurut United Nations Environment Programme, metana mampu menahan panas lebih dari 25 kali dibanding CO₂. Sementara Intergovernmental Panel on Climate Change menegaskan bahwa gas ini mempercepat pemanasan global.
Artinya, tanpa kita sadari, kebiasaan sederhana seperti membuang sampah sembarangan ikut memanaskan bumi.
Dan pada titik ini, kita tidak bisa lagi menyebutnya sekadar masalah lingkungan.
Penutup: Ini Tentang Kesadaran Kita
Ini adalah masalah kesadaran.
Kita ingin pembangunan cepat, tetapi melupakan daya dukung lingkungan. Kita ingin hidup nyaman, tetapi tidak mau mengubah kebiasaan.
Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kesadaran kecil yang dilakukan bersama. Dari cara kita memperlakukan tanah, air, udara, dan sampah.
Karena pada akhirnya, bumi tidak membutuhkan kita—kitalah yang membutuhkan bumi.
Jika tulisan ini terasa benar, jangan berhenti di sini.
Bagikan. Suarakan. Lakukan.
Karena perubahan tidak terjadi saat kita hanya memahami, tetapi saat kita mulai bergerak bersama.
Hari Bumi, 22 April 2026
Oleh : Lolita Damayanti
Ketua Bidang Energi, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (BELHPI) DPD PKS Kota Depok
Pelopor Pegiat Lingkungan Kota Depok
#HariBumi #LingkunganHidup #PerubahanIklim #SaveEarth #Depok













