Depok — Pemerintah Kota Depok pada Jum’at (24/10/2025) lalu menggelar kegiatan Ngaji Bareng Gus Idam di Kantor Wali Kota Depok dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Acara tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri berbagai kalangan umat Islam di Kota Depok.
Namun, muncul narasi di media sosial yang menyebutkan bahwa selama 20 tahun terakhir tidak pernah ada kegiatan sholawatan di Balai Kota Depok, dan baru kali ini bisa dilakukan setelah pergantian kepemimpinan.

Narasi ini seolah menggiring opini bahwa sebelumnya terdapat larangan bagi warga, khususnya dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), untuk melaksanakan kegiatan keagamaan seperti maulid dan sholawat di lingkungan Balai Kota.
Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi PKS, Habib Ghasim, meluruskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan berpotensi memecah belah umat.
“Kami sangat gembira dan menghormati semua kegiatan dakwah dan syiar Islam di Depok, termasuk tabligh akbar yang digelar oleh sahabat-sahabat dari NU. Justru inilah yang kami harapkan — Depok menjadi kota yang hidup dengan semangat keagamaan dan cinta sholawat,” ujar Habib Ghasim.
Ia menegaskan bahwa sejak dahulu, para Wali Kota Depok dari PKS selalu membuka ruang bagi semua ormas Islam untuk berdakwah dan berkhidmat. Bagi PKS, siapa pun yang mengajak warga Depok mencintai Rasulullah ﷺ adalah mitra dalam kebaikan.





“Mari kita teruskan tradisi baik ini bersama-sama. Tidak perlu saling membandingkan, karena dakwah bukan kompetisi, tapi kolaborasi dalam membangun kota yang religius dan harmonis,” tambahnya.
Habib Ghasim juga mengingatkan bahwa sejak akhir 2024, Pemkot Depok telah membangun Depok Open Space di kawasan Balai Kota — sebuah ruang terbuka publik yang memang dirancang agar masyarakat dapat menggelar kegiatan berskala besar, termasuk sholawatan, tabligh akbar, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Sebelumnya, kegiatan maulid dan sholawat memang lebih banyak diselenggarakan di tingkat kelurahan dan kecamatan. Kini, dengan adanya fasilitas baru tersebut, acara besar dapat dipusatkan di Balai Kota.
“Justru apa yang bisa dilakukan oleh teman-teman NU saat ini merupakan hasil dari pembangunan dan fasilitas yang telah disiapkan oleh pemimpin Depok sebelumnya,” ungkapnya.
Berdasarkan jejak digital, klaim bahwa selama 20 tahun tidak pernah ada kegiatan sholawatan di Balai Kota Depok tidak sesuai fakta. Tercatat, pada tahun 2015 pernah diadakan peringatan Maulid Nabi di halaman Balai Kota yang juga diisi dengan sholawat.
“Jadi narasi yang menyebutkan bahwa ‘selama 20 tahun tidak bisa sholawatan di Balai Kota Depok’ itu hoaks, atau mungkin karena kurang update saja,” tegas Habib Ghasim.
Ia juga menambahkan, hubungan antara kader PKS dan para tokoh NU di berbagai kecamatan selama ini berjalan baik. Bahkan, pengurus PKS tingkat kecamatan kerap diundang dalam kegiatan NU setempat.
Menutup pernyataannya, Habib Ghasim mengajak seluruh umat Islam di Depok untuk tetap menjaga ukhuwah dan tidak terprovokasi oleh narasi yang menyesatkan.
“Kita semua satu tujuan — menegakkan syiar Islam dan menjaga kerukunan umat. Jangan sampai perbedaan pandangan politik membuat kita terpecah. Depok harus terus menjadi kota yang religius, sejuk, dan bersatu.”














