Home Berita PKS Depok DUA JIWA YANG MEMILIH BISU, MEMBACA FENOMENA “FATHERLESS” DALAM FILM PENDEK: MEMUTAR...

DUA JIWA YANG MEMILIH BISU, MEMBACA FENOMENA “FATHERLESS” DALAM FILM PENDEK: MEMUTAR WAKTU

Screenshot

Ruang Kosong, mungkin adalah metafora yang lebih tepat dalam menggambarkan film pendek berdurasi 15 menitan ini daripada Memutar Waktu. Karena film ini banyak berbicara adanya rongga-rongga yang ditinggalkan oleh entitas yang seharusnya mengisi ruang tersebut. Kanaya sebagai tokoh utama merasa telah sejak lama kehilangan sosok sang Abi, meninggalkan suatu celah hampa di hatinya yang kemudian malah diisi oleh entitas lain yang belum pantas berada di sana. Ayah yang seharusnya menjadi tempat ia curhat dan berkeluh kesah, hadir dengan kegagapan dalam berkomunikasi secara baik.

Ada banyak momen kosong yang dihadirkan dalam film. Kekosongan perhatian, kekosongan empati dan kekosongan peran. Ditambah kekosongan dari pembicaraan hati ke hati yang selayaknya dilakukan oleh ayah dan anak.

Sementara istilah memutar waktu yang dipilih sebagai judul utama, lebih mencerminkan penyesalan sosok ayah yang tak diutarakan secara eksplisit. Padahal, point of view utama yang menuturkan film ini berasal dari Kanaya, sang anak.

Dua Karakter Identik pada Sisi yang Berbeda

Kanaya dan Abinya punya kesamaan, yaitu memilih diam dalam mengungkapkan emosinya. Kanaya menyimpan semua rasa kecewa tanpa sedikitpun bercerita akan kehampaan dari sosok sang ayah. Pun karakter si Abi, memilih menuliskan perasaannya pada lembaran kosong. Ungkapan cinta yang tak pernah benar-benar bertemu di ruang nyata. Kegagalan dalam memilih pola komunikasi, menjadi bom waktu yang berbahaya bagi keharmonisan keduanya.

Pengalaman Sinematik yang Kurang Menarik, Tertutupi oleh Tema yang Memantik

Fatherless atau absennya peran ayah secara emosional adalah salah satu fenomena sosial yang paling beresonansi di negeri ini. Ketidakhadiran sosok ayah dalam momen-momen penting perkembangan psikologi dan sosial anak, sudah menjadi hal biasa terjadi di masyarakat. Ayah acapkali terlalu sibuk mencari nafkah materiil dan aktif dalam bermasyarakat, tetapi lemah dalam memberi keteladanan serta peran-peran moril dalam kesehariannya di rumah tangga.

Sebagian ayah telah merasa mencukupi kebutuhan istri dan anaknya dengan menghadirkan berbagai fasilitas hidup demi menunjang perkembangan mereka. Akan tetapi tak punya waktu untuk membersamai proses-proses perkembangan itu sendiri.

Mengangkat cerita seperti ini memiliki gaung yang lebih menggema dibandingkan pengalaman sinematik yang ditawarkan film ini sendiri. Pada akhirnya kegagapan akting sang ayah terasa sebagai ketidakcakapan karakter dalam berkomunikasi. Dan jumping kamera yang mengganggu di banyak potongan seolah-olah mewakili distorsi hubungan yang kurang terjalin.

Adegan klise sakit jantung atau pingsan yang secara tiba-tiba pada karakter, sering digunakan sebagai cara usang dalam mengeskalasi konflik di berbagai cerita film maupun sinetron. Keterbatasan waktu dalam berkisah membuat sebagian filmmaker ‘terpaksa’ menggunakan jalan pintas demi memberi bumbu dramatik.

Visual yang biasa saja, bahkan tampil apa adanya, tak lagi penting bagi penonton selama apa yang disampaikan relevan dan mampu menyentuh inti permasalahan. Air mata penonton bisa tetap tulus mengalir di saat tangisan sang aktor malah kurang meyakinkan untuk dinikmati. Film ini telah menjadi representasi segenap sisi gelap dalam kondisi nyata di suatu rumah tangga meski digarap dalam kondisi naskah serta eksekusi yang belum sepenuhnya matang.

Roger Ebert, seorang kritikus film terkenal pernah berujar, “But sometimes, what a movie touches in our souls is so deep that we forgive its flaws.” [Namun terkadang, apa yang disentuh sebuah film dalam jiwa kita begitu dalam hingga membuat kita memaafkan kekurangan-kekurangannya.]

***
oleh Muhammad Valdy Nur Fattah, Ketua Komdigi DPC Cinere